PROXY WAR DAN TANTANGAN NEGARA BANGSA

Authors

  • Makhfira Nuryanti Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia

Keywords:

Proxy war, tantangan, negara bangsa

Abstract

Proxy war kini menjadi ancaman bagi kedaulatan berbagai bangsa, tak terkecuali dunia Muslim, baik itu negara Islam atau negara bangsa dengan mayoritas masyarakatnya Islam, seperti Indonesia. Tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-perang jenis baru. Proxy war tergolong ke dalam ancaman besar sebuah ketahanan negara karena dapat menghancurkan sebuah bangsa dalam keheningan, negara yang menjadi sasaran atau target tidak menyadari bahwa negaranya sedang diporak-porandakan. Proxy war kini menjadi ancaman bagi kedaulatan berbagai bangsa, tak terkecuali dunia Muslim, baik itu negara Islam atau negara bangsa dengan mayoritas masyarakatnya Islam, seperti Indonesia.menggunakan cara cara licik, penuh muslihat (tricky), yakni memakai pihak ketiga untuk menaklukkan lawan, biasanya memanfaatkan negara lain yang lebih kecil atau bisa pula menggunakan aktor non negara seperti ormas, LSM, kelompok masyarakat atau bisa juga melalui perseorangan. Proxy war ini sulit dideteksi, mana kawan dan mana lawan, apalagi di situasi masyarakat yang terpecah belah. Tantangan ini serius, untuk mengatasinya dibutuhkan persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara. Negara harus fokus pada musuh yang sesungguhnya, yakni yang jelas-jelas ingin mengeruk keuntungan dari sebuah bangsa. Cara terbaik untuk melawan proxy war adalah dengan mengenali musuh, kemampuan mengenali musuh ini bisa kita peroleh jika kesadaran masyarakat akan pentingnya kesatuan dan persatuan bangsa sudah muncul.

Downloads

Download data is not yet available.

References

A. Heywood, Global Politics, (Basingstoke: Palgrave Foundation, 2011).

Andrew Mumford, “Proxy Warfare and The Future of Conflict”, dalam The RUSI Journal, Volume 158, Number 2, (May 2013).

APJII, Penetrasi & Perilaku Pengguna Internet Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Survei 2017.

Bambang Trisutrisno, “Merawat Sumpah Pemuda untuk Menghadapi Proxy War”, Artikel, (t.t).

Chris Loveman, “Assessing the Phenomenon of Proxy Intervention”, dalam Conflict, Security and Development, Vol. 2, No. 3, (December 2002).

Dick Simpson, James Nowlan, Elizabeth O’Shaughnessy, The Struggle for Power and Influence in Cities and States, 1st Edition, (London: Pearson, 2010).

E.J. Wilson, “Hard Power, Soft Power, Smart Power”, dalam ANNALS of the American Academy of Political and Social Sciences, Issue 616, (2008).

Ekaterina Stepanova, “The Role of Information Communication Technologies in the Arab Spring”, dalam Ponars Eurasia, 15, (2011).

Farida Haryoko, “Pangkostrad Letjen TNI Gatot Nurmantyo Ajak Mahasis Pangkostrad Letjen TNI Gatot Nurmantyo Ajak Mahasiswa Menangkal Proxy War”, dalam Siaran Pers Universitas Indonesia, (10 Maret 2014).

G. Gallarotti, “Soft Power: what it is, it’s importance, and the conditions for its effective use”, dalam Journal of Political Power, Vol. IV, No. 1, (2011).

Heriawan dan Siti Muslikhati, Keputusan Arab Saudi Melakukan Perang Proksi terhadap Iran di Konflik Suriah 2011-2018, Naskah Publikasi, (Prodi HI, FISIP, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2018).

John B Alterman, “The Age of Proxy Warfare”, dalam Middle East Notes and Comment, CSIS Middle East Program, (May 2013).

Jon Abbink, “Ethiopia-Eritrea: Proxy Wars and Prospects of Peace in the Horn of Africa”, dalam Journal of Contemporary African Studies, 21, 3, (September 2003).

Joseph S. Nye, Soft Power: The Means To Success In World Politics, (New York: Public Affairs, 2004).

Joseph S. Nye, Understanding International Conflicts 7th Edition, (New York: Pearson, 2009).

M. Amin Abdullah, “Menengok Kembali Peran Agama di Ruang Publik”, dalam Jurnal Sosiologi Agama, Vol. XI, No. 2, (Juli-Desember 2017).

M. Cholil Nafis, “Tantangan Indonesia dalam Menghadapi Proxy War di Era Globalisasi”, Artikel, (t.t).

Mayor Inf Dony Gerdinand, “Pendidikan Pendahuluan Bela Negara di Era Proxy War”, dalam Jurnal Sekolah Staf dan Komando TNI AD, (Edisi Khusus, November 2016).

Michael A. Innes, Making Sense of Proxy Wars: States, Surrogates & the Use of Force, (Dulles Virginia: Potomac Books, 2012).

Mike Stillman, Proxy Wars: The Business of War, (Indiana: Trafford on Demand Pub, 2008).

Muhammad Affan, “Analisis dan Tantangan Muslim Indonesia di Era Perang Proksi”, dalam Analisis: Jurnal Studi Keislaman, Vol. XVIII, No. 2, (2018).

Phillip K. Hitti, History of The Arabs, Terj. Cecep Lukman Yasin, Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi. 2008).

Robert Heinsch, “Conflict Classification in Ukraine: The Return of the Proxy War?”, dalam Int’l L. Stud. Ser. US Naval War Col. 91, (2015).

Safril Hidayat dan Wawan Gunawan, “Proxy War dan Keamanan Nasional Indoneisa: Victoria Concordia Crescit”, dalam Jurnal Pertahanan dan Bela Negara, Vol. VII, No. 1, (April 2017).

Siswanto, “Aktualisasi Pancasila sebagai Strategi Menangkal Perang Proxy di Indonesia”, dalam Jurnal Pertahanan dan Bela Negara, Vol. VII, No. 1, (April 2017).

Sri Ayu Astuti, “Media Sosial Sebagai Ruang Publik Antara Netiket dan Netizen”, dalam Jurnal KANAL, Vol. I, No. 2, (2013).

Stephen Sulaiman Schwarts, Dua Wajah Islam: Moderatisme vs Fundamentalisme Dalam Wacana Global (The Two Faces of Islam), Terj. Hodri Ariev, (Jakarta: Blantika, 2007).

Tim Dunne & Brian C. Schimdt, “Realism”, dalam John Baylis & Steve Smith (Eds), The Globalization of World Politics, 2nd edition, (Oxford: Oxford University Press, 2001).

Yaacov Bar Simantov, “The Strategy of War by Proxy”, dalam Cooperation and Conflict, No. XIX, (New York: Middle East Institute, Columbia University and Department of International Relations, The Hebrew University of Jerusalem, 1984).

Published

2019-12-09

How to Cite

Nuryanti, M. (2019). PROXY WAR DAN TANTANGAN NEGARA BANGSA. Kalam: Jurnal Agama Dan Sosial Humaniora, 7(2). Retrieved from http://lsamaaceh.com/journal/index.php/kalam/article/view/63